Tampilkan postingan dengan label Sains dan Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains dan Teknologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Bayi Bintang Bersinar di 25 Tahun Hubble (Video)



Sebuah Video baru yang diambil teleskop Hubble memperlihatkan jagat raya kita yang bertaburan bintang-bintang baru. Video ini sekaligus sebagai penanda 25 tahun usia Teleskop Hubble sejak diluncurkan pertama kali pada tanggal 24 April 1990.




Ada yang punya cerita lain tentang Teleskop Hubble?



Kamis, 02 April 2015

Billboard Yang Akan Bikin Kamu Termotivasi



Apa yang kamu pikirkan saat lewat di depan billboard ini?

SarahWeigold, sang perancang, mengatakan bahwa dia membayangkan dia adalah seorang bintang Olimpiade yang sedang berlari dikelilingi para penonton yang bersorak untuknya.

Billboard ini memang baru konsep. Para penononton di dalamnya tidak akan bersorak kalau kau lewat di depannya mengemudikan mobil. Semakin cepat kau berjalan atau berlari, semakin kencang teriakan penonton.

Wigold mengatakan bahwa billboard ini tidak akan terlalu sulit untuk diwujudkan. Dia berpikir untuk menggunakan sensor kecepatan seperti yang ada di jalan raya. “Jika seseorang melewati batas kecepatan, maka para penonton akan menunjukkan wajah sedih. Namun, jika tidak melebihi, mereka akan menunjukkan wajah gembira. Teknologi bermain di sini.”





Sabtu, 28 Maret 2015

Remaja 17 Tahun ini Penemu Mutasi DNA Untuk Memerangi HIV dan Meningitis


Meninggalnya Olga (27/3) mungkin menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang, bisakah meningitis disembuhkan?

Andrew Jin punya jawabannya. Dia berhasil menemukan bagaimana mutasi DNA bisa menjadi solusi bagi pengobatan berbagai penyakit, termasuk meningitis. Berikut artikelnya yang kami terjemahkan dari fastcoexist.com


Seperti halnya kebanyakan anak-anak SMA yang menyenangi sains, Andrew Jin tertarik kepada evolusi manusia. Tapi Jin, satu dari tiga pemenang Intel Science Talent Search, melihat lebih jauh kedepan. Untuk proyeknya, siswa SMA ini dating dengan mesin algoritma yang dapat mendeteksi mutasi pada mutasi genome manusia yang diharapkan suatu hari nanti bisa dikembangkan sebagai obat untuk memerangi penyakit seperti HIV dan schizophrenia.

Pada awalnya Jin hanya ingin menyelidiki tentang 10.000 tahun lebih evolusi manusia. “Saya cuma penasaran,” katanya. “Saya berpikir tentang seleksi alam dan evolusi, dan sebagaimana kita tahu ada banyak teorinya, tapi kita tidak pernah tahu tentang yang sebenarnya. Kemudian, saya penasaran tentang mutasi yang membantu manusia menjadi yang lebih canggih.”


























Jin memutuskan untuk mempelajari rangkaian 179 DNA manusia dari seluruh dunia. Setiap rangkaian terdiri dari 3 juta pasang DNA – sangat banyak untuk dilihat jika tanpa bantuan algoritma. Jadi, dia merangkai mesin algoritma dan menemukan 130 mutasi adaptif potensial yang saling berhubungan, seperti kekebalan tubuh dan metabolism yang berperan penting dalam evolusi manusia.
Dimulai dari pekerjaan program musim panas di MIT, Jin menemukan sejumlah mutasi, termasuk yang melibatkan resitensi meningitis dan menurunkan tingkat pelemahan virus seperti influenza dan HIV, yang sangat berpontesi digunakan perusahaan farmasi untuk menciptakan obat baru.
“Ada bukti yang sangat kuat bahwa mutasi ini memainkan peran penting dalam resistensi terhadap penyakit, tapi untuk lebih meyakinkan, saya akan melakukan percobaan biologi untuk mempelajari mekanisme pertahanan. Itulah yang membuat saya tertarik saat ini,” kata Jim.
Saat dia belajar di kampus nanti (dia bahkan belum yakin akan pergi ke sana), Jin berencana mengambil jurusan sains atau biologi. Tapi sebenarnya bukan itu keahlian dia: dia punya bakat main piano dan pernah bermain di Canegie Hall. “Saya juga kerajingan sama pramuka,” kata Jim.


Jumat, 13 Maret 2015

Lubang Cacing dan Interstellar

oleh Alfarizki Qodri (Kelas X MIA 8)


"Rencana yang lebih baik daripada meninggalkan Bumi adalah dengan menjaga Bumi kita sendiri.
-- Alfa --


Film garapan sutradara Christopher Nolan ini mendapatkan banyak perhatian dari para penggemar film, apalagi bagi kalangan penyuka kosmologi. Namun, bagi orang awam mungkin Interstellar akan membuat dahi berkerut. Itu karena film berdurasi hampir 3 jam ini dibuat dengan alur yang agak rumit. Meski begitu, Nolan cukup pintar untuk menantang Anda terus mengikuti jalan ceritanya hingga akhir.

Saya akan membahas tentang sesuatu yang menarik dari film ini, yaitu Wormbole  atau Lubang Cacing. Tentang bagaimana Lubang Cacing dapat digunakan untuk menembus galaksi lain, sehingga memungkinkan kita untuk mencari planet pengganti Bumi. Mari kita mulai pembahasan kita dengan pertanyaan, “Apakah Lubang Cacing itu benar-benar ada? Atau, apakah benar lubang ini bisa menembus ke alam semesta lain?”
Sebenarnya, sampai sekarang masih belum ada bukti yang bisa mendukung keberadaannya, baik dari pengamatan ataupun secara eksperimen. Lubang Cacing itu sendiri merupakan solusi matematis mengenai hubungan geometris antara satu titik dalam ruang-waktu dengan titik yang lain, dimana hubungan tersebut bisa berperilaku sebagai ‘jalan pintas’ dalam ruang-waktu. Menurut Dr. Kip S. Thorne dari California Institute of Technology, lubang cacing diilustrasikan memiliki dua ujung. “Misalnya, satu ujung di kamarmu, ujung yang lain ada di negara asal teman facebook-mu di Perancis. Kalau kau melongok melalui wormhole itu, maka akan tampak temanmu berdiri dengan latar belakang menara Eiffel. Sementara, temanmu yang melihat melalui ujung wormhole di Prancis lbisa melihatmu duduk mengerjakan PR di kamarmu. Tentu saja akan menyenangkan jika setelah mengerjakan PR kau bisa menemui kawanmu di Prancis dan naik ke menara Eifel hanya dengan masuk ke semacam lorong.”
Tapi, menurut hukum fisika keberadaan lubang cacing itu memungkinkan. Meski demikian, lubang cacing mudah runtuh, sehingga mustahil ada material yang selamat jika masuk melalui lubang cacing. Apalagi manusia, yang dalam film Interstellar digambarkan sang tokoh dengan mudahnya memasuki lubang cacing. Namun, ada kemungkinan lain lubang cacing tidak akan runtuh seandainya material yang masuk memiliki energi negatif; semacam gaya anti-gravitasi.



Istilah lubang cacing sendiri ternyata berasal dari teori relativitas umum yang dilontarkan oleh Albert Einstein. Teori ini juga disebut sebagai 'jembatan Einstein-Rosen' karena dalam menemukan teori ini, Einstein dibantu oleh Nathan Rosen. Mereka mengibaratkan lubang cacing sebagai 'jembatan' yang bisa menembus ruang dan waktu. 'Jembatan' ini menghubungkan dua titik yang berbeda, baik ruang dan waktu. Dengan menggunakan lubang cacing, secara teoretis, akan terjadi jalan pintas, dan otomatis ini akan mengurangi jarak dan waktu perjalanan antar bintang atau planet.
Bisa kebayangkan bagaimana bisa sebuah lubang bisa menuju ke alam semesta lain, padahal jarak dari alam semesta kita ke alam semesta lain sangatlah jauh? Namun, meski lubang cacing hanya hipotesa Einstein, tidak sedikit ilmuwan yang ingin menemukan lubang cacing ini.
Perlu diketahui, posisi lubang cacing itu berada didalam lubang hitam. Dan, sebagaimana kautahu lubang hitam itu meyedot material yang berada di sekitarnya termasuk CAHAYA. Sehingga, apabila kita menghubungkannya dengan lubang hitam, maka kita akan temukan kejanggalan lubang hitam dalam Interstellar. Ketika Cooper (Matthew McConaughey) dan para kru pergi ke sebuah planet yang mengorbit dalam lubang hitam, dia berpikir bahwa dengan mengitari lubang hitam maka dia bisa menghindari pergeseran waktu yang terlalu ekstrim. Karena dengan demikian dia bisa kembali kepada anaknya ketika usia anaknya sama dengan usia dirinya saat berangkat. Disini Cooper hanya membutuhkan beberapa jam sebelum pesawatnya dapat mengitari lubang hitam. Padahal, faktanya butuh waktu yang sangat lama untuk mengitari lubang hitam.
Seperti itulah beberapa keganjilan lubang cacing dan lubang hitam dalam film ini. Nola mengakui bahwa modal utamanya bukan soal cerita atau penampakan lubang hitam, melainkan tentang keberadaan pesawat ulang alik “ENDURANCE” yang mengantarkan Cooper dan kru lainnya.
Kembali ke topik utama tentang lubang cacing, namun kali ini kita akan menghubungkannya dengan kekuasaan Allah. Ada beberapa jenis lubang cacing, tapi yang membuat takjub adalah lubang cacing yang disampaikan oleh beberapa cendikiawan islam yaitu WORMHOLE-MA’AARIJ, yaitu tempat naik para malaikat.
Dari Allah yang mempunyai tempat-tempat naik. Naik malaikat dan ruh kepada Nya di dalam satu hari adalah ukurannya lima puluh ribu tahun. (QS. Al Ma’aarij (70) ayat 3-4).
Wormhole-Ma’aarij juga diyakini akan menemui semua insan yang bernyawa, yakni ketika ajal menjelang dan terbukalah satu pintu Wormhole-Ma’aarij kepada kita. Tempat ini akan terhubung ke Alam Barzakh, dimana Malaikat Maut akan menemani kita dalam meniti “jembatan” ini,  yang satu harinya berbanding secara relatif 50 ribu tahun di bumi. Wow! Benar-benar sama dengan prinsip lubang cacing dimana kita bisa pergi kemana saja dalam waktu singkat melalui lubang cacing walaupun jarak tujuannya sangat jauh. 
Saya suka dengan Interstellar dan memasukannya ke dalam daftar film favorit saya. Ya, walaupun ilmuwan menemukan keganjilan pada film ini, namun pada intinya, sebagus-bagusnya film pasti ada kekurangannya. Film ini membuat saya menjadi lebih cinta dengan bumi, dimana bumi digambarkan dalam masa kritis dan tidak layak untuk ditinggali, dan kemudian sejumlah orang mencari planet pengganti baru sebagai pengganti bumi