Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Disiplin Diri


Disiplin diri, kata itu sepertinya lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan. Kita lebih suka bangun telat ketimbang bangun lebih pagi, nonton TV lebih asik daripada belajar dan kita lebih senang makan junk food ketika seharusya kita berolahraga.
Disiplin diri selalu menjadi yang belakangan.
Padahal tidak bisa disangkal, jika kita ingin mencapai tujuan kita, seperti turunin berat bada, menulis novel, belajar, yang kita butuhkan adalah disiplin diri.
Sebenarnya disiplin diri tidak selamanya tidak menyenangkan, dan juga tidak terlalu sulit memulainya jika kita tahu caranya.
1. Mulai dengan Satu Kebiasaan
Sukses di sekolah maupun pekerjaan di bangun secara bertahap. Jika kita bisa menguasai satu kebiasaan, maka kita bisa menguasai yang lainnya.
Salah satu masalah yang kita temukan adalah kita ingin sekaligus merubah semuanya. Kita ingin tidur lebih cepat, menulis cerpen, masak, belajar matematika, diet,, yoga, meditasi. Tapi semuanya itu sulit untuk dilakukan sekaligus. Bukankah Roma tidak dibangun dalam semalam? 
Dan supaya lebih mudah, fokus pada hal yang kita sudah kuasai, atau kegiatan lama yang jarang kita lakukan atau belum konsisten, seperti cuci piring setelah makan, beres-beres tempat tidur, jogging, dsb.
2. Komitmen untuk Memulai
Memulai sebuah kebiasaan yang biasa kita tunda selalu sulit untuk dilakukan, bahkan untuk kebiasaan yang paling mudah sekalipun
Membangun disiplin diri adalah tentang memulai pekerjaan. Dan rahasia untuk memulai adalah membangun perilaku kita sehingga kita tidak bisa untuk menundanya.
Pikirkan sebuah kebiasaan sebagai urutan perilaku kita. Contohnya menulis cerpen deh. Alih-alih memikirkan ceritanya, kita malah berpikir tentang bagaimana menyalakan laptop, membuat kopi, beli snack, memilih huruf yang asik, lalu browsing internet buat cari inspirasi.
Tapi dengan fokus pada tindakan pertama – seperti membuat prolog – dan kita ‘hadir’ dalam kegiatan menulis kita, maka kita sudah selangkah menghindari penundaan.
Jadi, dengan satu kebiasaan, fokus pada langkah pertama dan kita harus komitmen untuk terus melakukannya. 
Kita juga harus menjaga pikiran kita memikirkan hal lain. Hal ini mencegah kita dari melakukan pekerjaan lain yang tidak perlu.
Ya, buat satu kalimat dan dengarkan bunyi ketikan keyboard laptop, maka cerita kita akan mulai terasa hidup, bukan?
3. Konsisten
Mungkin diantara kita ada yang bilang, “Saya tidak ada masalah dengan memulai kebiasaan, cuma sulit untuk konsisten.”
Konsisten itu memang sulit. Tapi untuk konsisten itu bisa dimulai dengan mencintai prosesnya. Konsisten bukan berarti tidak pernah melewatkan satu hari pun. Konsisten berarti tentang kehilangan satu hari, belajar kenapa kita bisa kehilangan dan setelah itu melakukan sesuatu supaya itu tidak terjadi lagi.
4. Cuci, Bilas, dan Ulangi.
Inilah saat dimana kita tidak perlu melihat kemajuan kita, ketika perilaku sudah menjadi sebuah kebiasaan. Langkah ini bukan berarti kita kehilangan fokus pada kegiatan kita atau malah berhenti; maksud saya dengan terbiasa berarti sesuatu akan dikerjakan lebih mudah.
Langkah selanjutnya adalah pilih kebiasaan baru dan ulangi prosesnya.

Jumat, 10 April 2015

Thanks God Ada UN



Tepat tanggal 13 – 15 April 2015 akan diselenggarakan Ujian Nasional (UN). Meski UN kali ini tidak menentukan kelulusan siswa, namun UN tetap penting karena akan menjadi bahan evaluasi pemerintah terhadap kinerja sekolah. Untuk itu sekolah mengerahkan semua tenaga dan pikiran supaya semua siswanya bisa lulus dengan nilai memuaskan. Termasuk diantaranya dengan mengadakan doa bersama seperti yang dilakukan SMAN 2 Bekasi kamis kemarin (9/4).



UN sebagaimana ujian lainnya merupakan syarat untuk menempuh tingkatan selanjutnya. Ujian akan selalu ada, demikian orang bijak bilang, suka atau tidak suka harus dihadapi. Setelah melewati UN, seorang mantan siswa (calon mahasiswa) akan menghadapi ujian lain seperti SPMB. Dan ketika menjadi mahasiswa pun dia akan menempuh banyak ujian. Ujian lain datang ketika melamar kerja dimana seorang calon karyawan harus melewati psikotes dan wawancara. Dan begitupun ketika sudah menjadi karyawan. Dia harus melewati ujian untuk promosi atau mengambil gelar profesi.

Kita seharusnya bersyukur dengan adanya ujian. Mungkin ujian-lah satu-satunya momen dimana otak berlatih lebih keras ketika di hari biasa otak kita lebih banyak menganggur. Otak sebagaimana fisik kita juga membutuhkan latihan. Semakin sering kita melatihnya, kinerja otak akan semakin membaik, dan semakin baik pula perasaan kita. Selain itu, tidak seperti organ fisik lainnya, otak kita tidak aus oleh penggunaan yang berulang-ulang dan terus-menerus. Malah sebaliknya, otak kita akan semakin membaik bila kita semakin menantangnya. Pengamatan ini telah menjurus ke suatu prinsip mendasar tentang cara kerja dasar otak, yaitu: gunakan atau kita akan kehilangan.





Masa tenang bukan berarti tidak belajar sama sekali. Menganggap remeh ujian berarti kamu sudah hampir menyia-nyiakan otak kamu. Belajar sebelum ujian merupakan cara membangkitkan pikiran pada masa-masa belajar di kelas. Latihlah otak dengan mengerjakan soal-soal latihan hingga benar-benar fasih. Bertanya pada teman jadi salah satu cara terbaik. Sesekali letakkan pinsil atau pulpen kamu untuk mengistirahatkan otak dan untuk melihat ke masa depan dimana kamu sedang duduk di kursi kelas universitas idaman kamu. Tapi jangan terlalu lama, apalagi sampai tertidur.

Selamat ujian, semoga sukses.






Minggu, 05 April 2015

Edugreen, Green Day, dan The Simpsons


Masih dalam rangka perayaan hari ulang tahunnya, SMAN 2 Bekasi mengadakan "Edugreen 2015: Save Our Earth for The Future" pada hari Sabtu (4/4). Kegiatan yang juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup ini bertujuan merealisasikan budaya lingkungan dan mendukung visi misi Kota Bekasi terkait lingkungan hidup dan kewirausahaan. Acara diisi dengan berbagai macam lomba, pertunjukan, dan kreativitas siswa dalam berbisnis.
Bicara tentang kata Green dari Edugreen biasanya selalu dikaitkan dengan lingkungan atau alam. Lalu bagaimana dengan Green Day? Bukankah Green Day lebih dikenal dengan nama sebuah band punk rock? Yep kamu benar. Namun itu bukan berarti band tersebut tidak ada kaitannya dengan masalah lingkungan. Kalau kamu pernah nonton The Simpsons Movie pasti kamu tahu apa hubungannya. Dalam adegan pembuka, Green Day mengadakan konser di atas barge (kapal tongkang) selama 3.5 jam untuk kampanye penyelamatan danau Springfield. Warga Springfield memang antusias selama konser berlangsung, tapi ketika sang vokalis mulai bicara tentang masalah lingkungan, seorang warga malah melempari mereka dengan batu. Aksi itu memicu yang lainnya untuk melempar. Kapalnya bocor di beberapa tempat dan oleng sebelum akhirnya tenggelam ala Titanic. Tiga personil Green Day mati. Di hari pemakaman mereka, seorang nenek memainkan piano American Idiot versi pemakaman.

Akan tetapi, tidak semua orang tidak peduli. Ada seorang gadis kecil yang cemas dengan kerusakan danau Springfield. Lisa Simpson mengetuk pintu dari satu rumah warga ke rumah yang lain untuk memberikan penjelasan tentang situasi kritis danau Springfield. Tapi mereka menutup pintu dan jendela. Benar-benar tidak ada yang peduli. Mereka pikir bicara masalah lingkungan tidaklah menarik, apalagi yang menyampaikannya seorang anak kecil. Bukankah masalah lingkungan itu urusan pemerintah?
Ya, Lisa memang kecewa, namun kekecewaannya tidak berlangsung lama setelah mendengar suara seorang anak laki-laki bicara tentang masalah lingkungan. Dia adalah Colin, anak seorang musisi Irlandia. Tentu saja dia bukan anaknya Bono vokalis U2 jika itu yang kau maksud. Kecuali, Dia hanya seorang anak laki-laki biasa yang peduli pada lingkungan dan suka bermain musik.
Singkat cerita, Lisa dan Colin mendapat kempatan presentasi di balai kota dan berhasil meyakinkan warga tentang tingginya polusi danau Springfield. Warga setuju dengan mereka; danau Springfield dibersihkan, pipa limbah nuklir ditutup, dan tidak seorang pun boleh membuang sampah ke danau.

Hingga pada suatu hari datang seorang yang tidak bertanggung jawab datang ke danau untuk membuang kotoran babi. Dia adalah Homer Simpson, ayah Lisa. Mungkin dia pikir sedikit kotoran babi tidak akan terlalu berpengaruh pada kebersihan danau. Tapi kenyataannya berbeda! Benda itu meracuni danau dan mengeluarkan radiasi yang tak kalah bahaya dari nuklir. Bayangkan, seekor tupai yang tercebur ke dalamnya langsung berubah menjadi monster mata seribu. Mengetahui kejadian tersebut, EPA (Enviromental Protection Agency) datang untuk mengatasi krisis. Tindakan cepat diambil, kota Springfield ditutup dalam kubah kaca raksasa atas perintah presiden Arnold Schwarzenegger.

The Simpsons Movie sebenarnya mewakili gambaran nyata tentang kepedulian kita pada lingkungan. Keharmonisan alam dengan manusia tidak bisa dipisahkan dari perilaku kita dalam menjaga dan memeliharanya. Apa yang dilakukan sekolah dengan Edugreen-nya merupakan bagian kecil dari aksi nyata dalam kampanye lingkungan bersih. Kita berharap Go Green 2015 bukan hanya kegiatan sehari. Perlu waktu dan kerja keras untuk merubah kebiasaan kita agar lebih ramah lingkungan; tentang bagaimana tidak merokok di lingkugan sekolah, membuang sampah di tempat sampah atau lebih memilih pergi ke sekolah dengan sepeda ketimbang bawa motor atau mobil.
Foto: @edugreen15

foto: @edugreen15


Kamis, 02 April 2015

Billboard Yang Akan Bikin Kamu Termotivasi



Apa yang kamu pikirkan saat lewat di depan billboard ini?

SarahWeigold, sang perancang, mengatakan bahwa dia membayangkan dia adalah seorang bintang Olimpiade yang sedang berlari dikelilingi para penonton yang bersorak untuknya.

Billboard ini memang baru konsep. Para penononton di dalamnya tidak akan bersorak kalau kau lewat di depannya mengemudikan mobil. Semakin cepat kau berjalan atau berlari, semakin kencang teriakan penonton.

Wigold mengatakan bahwa billboard ini tidak akan terlalu sulit untuk diwujudkan. Dia berpikir untuk menggunakan sensor kecepatan seperti yang ada di jalan raya. “Jika seseorang melewati batas kecepatan, maka para penonton akan menunjukkan wajah sedih. Namun, jika tidak melebihi, mereka akan menunjukkan wajah gembira. Teknologi bermain di sini.”





Jumat, 27 Maret 2015

Brainstorming Hanya Buang-Buang Waktu?

 

Brainstorming, sebagaimana kita tahu diperkenalkan pertama kali oleh Alex Osborn sekitar tahun 1950’an. Teknik ini berdasarkan pada empat aturan: (1) keluarkan ide sebanyak mungkin; (2) utamakan ide yang tidak biasa atau orisinil; (3) padukan dan saring ide-ide tersebut; dan (4) hindari saling mengkritik selama brainstroming. Proses ini, yang seharusnya bersifat tidak resmi dan bebas berekspresi, disandarkan pada dua dasar pemikiran psikologi klasik. Pertama, kehadiran orang lain bisa memotivasi performa seseorang. Kedua, kuantitas (pada akhirnya) mengungguli kualitas.
Osborn mengklaim bahwa brainstorming dapat meningkatkan kreatifitas hampir 50% ketimbang apabila seseorang bekerja sendiri. Kini, setelah enam dekade penelitian mengatakan bahwa hanya didapat sedikit bukti menyebutkan brainstorming menghasilkan lebih atau pemikiran yang lebih baik ketimbang orang yang bekerja sendirian.
Sebuah meta-analisis menjelaskan lebih dari 800 kelompok menunjukkan bahwa seseorang kemungkinan besar akan lebih menghasilkan ide lebih banyak saat mereka tidak berinteraksi dengan orang lain. Brainstorming khususnya bisa mengancam produktifitas seseorang dalam sebuah kelompok besar, ketika kelompok tersebut diawasi dengan ketat, dan ketika performa diukur dengan llisan ketimbang tulisan. Masalah lain adalah kelompok tersebut cenderung menyerah ketika mereka menyatakan tidak bisa memberi masukan yang lebih banyak.
Jadi, kenapa brainstorming tidak berhasil sesuai rencana?
Menurut Dr. Tamaro Chamorro, seorang Profesor Psikologi Bisnis di University College London (UCL) dan Columbia University, ada empat alasan brainstorming tidak bekerja, yaitu:
1. Kemalasan: Ada kecenderungan bagi sebagian orang tidak berusaha ketika mereka berada dalam kelompok ketimbang bekerja sendiri. Sesuai dengan bystander effect, yaitu kita tidak akan merasa lebih terdorong melakukan sesuatu saat tahu orang lain mungkin akan melakukannya.
2. Kecemasan: Sebagian orang malah menjadi cemas dengan cara anggota kelompok lain memandang ide mereka. Sejalan dengan itu, ketika anggota kelompok melihat orang lain punya kemampuan lebih, maka performa mereka akan cenderung menurun (minder). Hal ini menjadi masalah bagi orang yang introvert dan punya kepercayaan diri yang rendah.
3. Penurunan Kemampuan: Kejadian ini berupa penyesuaian kepada yang lebih rendah, dimana orang yang punya kemampuan lebih pada akhirnya akan menyesuaikan diri dengan kemampuan lawannya. Hal ini biasa terjadi dalam olahraga. Jika Anda berlatih dengan orang yang kompetensinya di bawah Anda, maka kompetensi Anda akan cenderung menurun dan lama kelamaan kemampuan Anda akan setara dengan pesaing Anda.
4. Hambatan Produktivitas: Bukan masalah besar-kecilnya suatu kelompok, seseorang hanya boleh mengajukan satu suara pada satu waktu jika ingin didengar. Studi telah menemukan bahwa jumlah usulan yang muncul dengan lebih dari enam atau tujuh anggota, dan jumlah suara per orang akan menurun seiring dengan semakin besarnya kelompok.
Lalu, jika brainstorming memiliki cacat, kenapa dalam praktiknya sering digunakan?
Ada dua alasan utama kenapa brainstorming masih digunakan. Pertama, seiring dengna meningkatnya pekerja dengan spesialiasi, perusahaan melihat bahwa keahlian tersebut perlu dibagi dengan karyawan lain. Jika pemecahan masalah berasal dari bidang berbeda, lalu dengan dikumpulkannya orang-orang yang tepat, secara teori, akan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan karyawan sehingga bisa menghasilkan solusi yang diharapkan. Namun, dalam praktiknya, pendekatan ini butuh pemilihan individu yang tepat dan kesungguhan berkordinasi. Kedua, meskipun tidak menghasilkan pemikiran yang lebih baik, brainstorming dianggap lebih demokratis dari metode lain, sehingga dapat menambah jumlah masukan meskipun tanpa memedulikan kualitasnya.
Akhirnya, brainstorming bisa terus digunakan karena secara naluriah memang terbiasa digunakan. Jadi, silahkan saja Anda meluangkan waktu untuk rapat braistorming. Tapi, jangan terlalu berharap, lebih dari membuat tim Anda semakin solid.


Rabu, 25 Maret 2015

Inilah CEO 15 Tahun Yang Membuka Mata Dunia






Lilian Pravda adalah CEO Vision for and From Children, oraganisasi yang membantu orang-orang yang tidak memiliki akses pengobatan mata. Pravda baru berusia 15 tahun, dan organisasinya telah membantu pengobatan mata untuk lebih dari 24.000 orang.

Pravda terlahir dengan kondisi katarak dan menjalani beberapa kali operasi. Dia merasa dengan seringnya dia berada di rumah sakit membuat dia belajar bahwa tidak semua orang seberuntung dirinya yang mendapatkan pengobatan mata. Kemudian dia mendirikan Vision for and fromChildren pada usia 8 tahun dengan tujuan supaya anak-anak yang lain bisa mendapatkan pelayanan kesehatan mata bahkan operasi mata yang layak.

Jadi, siapa bilang anak muda sekarang malas dan apatis?


Kamis, 19 Maret 2015

Pola Negatif, Pola Positif


Pernah nggak kamu punya teman yang selalu terlambat, dan kamu sering dibuat kesal dengan berbagai alasannya? Hari ini dia terlambat datang dengan alasan bangun kesiangan. Besoknya dia terlambat lagi ketemu kamu karena macet. Di lain waktu dia terlambat karena harus balik lagi ke rumah untuk mengambil hp-nya. Dia sekolah pun demikian. Dia sering terlambat masuk kelas. Hukuman dari guru tidak membuat dia datang lebih awal.

Andrew Matthews dalam bukunya Being Happy menyebut kebiasaan terlambat ini sebagai pola. Kebiasaan ini sudah melekat dalam diri teman kamu, dan sepertinya ada yang salah ketika dia berhasil datang tepat waktu. Pola dikendalikan tanpa kita sadari, yaitu dalam alam bawah sadar kita. Sama halnya ketika kita sedang makan. Kita tidak pernah memerhatikan bagaimana sendok bisa masuk ke dalam mulut kita. Pada saat kita tidur, kita masih bisa bernafas dengan leluasa tanpa pernah memikirkannya.
Alam bawah sadar-lah yang mengatakan pada temanmu bahwa dia akan selalu terlambat. Jika temanmu berhasil bangun lebih pagi, program alam bawah sadarnya akan membantunya menemukan lampu merah menyala lama, mencari tukang kue untuk sarapan, atau menyusuri jalan baru yang menyesatkan.
Ada banyak pola yang sering kita temui, dan mungkin beberapa diantaranya kita alami. Sebut saja pola penyakit, saat dimana dia sakit menjelang ujian. Pola menghabiskan uang, saat dimana dia punya uang lebih, maka dia akan segera menghabiskannya. Pola gaya hidup berantakan; orang ini akan merasa aneh jika kamarnya rapih, sehingga dia ingin segera mengacak-acaknya.
Pola gangguan belajar sering terjadi pada siswa. Tidak sedikit siswa cenderung memiliki gangguan belajar meski sebenarnya dia melakukannya tidak sengaja.


Pola lain yang cukup mengerikan adalah pola tiada hari tanpa smartphone. Benda ini, yang seharusnya bisa mendekatkan yang jauh, malah berlaku sebaliknya. Kita sering menemui sekelompok orang berkumpul namun tidak bicara satu dengan yang lain. Masing-masing sibuk bermain game, posting gambar atau update status. Orang seperti ini seolah tidak bisa hidup tanpa smartphone.
Pola-pola di atas kita sebut dengan pola negatif. Namun bagaimanapun juga, di sisi lain terdapat juga pola positif yang sangat bermanfaat bagi kita. Mungkin kamu pernah kenal dengan orang yang selalu tepat waktu meski badai atau macet menghadang. Pola lainnya adalah pola apapun yang dikerjakannya selalu mudah. Ada juga orang yang memiliki pola berhemat (bukan pelit). Ada juga pola saya selalu sehat.
Kita pastinya menginginkan pola positif terjadi pada diri kita. Kita juga sering bertanya, “Kapan pola buruk dalam diri saya berubah? Kapan berhentinya? Jawabannya adalah, “Hidup akan berubah jika kita berubah.”
Tentu saja untuk berubah ada tantangannya. Kita harus siap menghadapi tantangannya dan konsisten dengan usaha kita.

Kamu ingin mempersiapkan dirimu untuk menghadapi ujian dan untuk itu kamu mengumpulkan segala energi untuk belajar setelah maghrib. ,Semua buku dan peralatan tulis sudah siap di meja belajar, dan kamu sudah memasang musik dulu supaya lebih rileks. Tapi tampaknya lagu belum cukup untuk membuat kamu berkonsentrasi sehingga kamu memutuskan untuk membuat kopi, membeli camilan, meraut pensil, dan menjelajah internet untuk mencari tambahan informasi. Ketika akhirnya kamu sudah mendapatkan semuanya, jam menunjukkan pukul 11.00, waktu yang cukup telat untuk tidur. Bagaimana mungkin bisa menyelesaikan soal ujian jika mengantuk?
Bayangkan kamu sedang berdiet. Kamu lari setiap pagi dan sore, menghindari makan coklat, kue, atau piza. Pada suatu hari teman jauh kamu datang dari Makassar dan membawakan kamu sekotak coklat dengan hiasan stroberi. Teman kamu bilang, “Kue ini khusus dibuat mama untuk kamu.” Nah lho?
Saat kamu memutuskan untuk berhemat dengan menabung, tidak jajan dan membawa makan siang dari rumah. Tapi, ketika baru dua minggu berjalan kamu menemukan iklan yang menjual komik yang wajib kamu koleksi. Kamu ingat pernah memburunya di pameran buku dan menjelajah di seluruh toko buku. Di samping itu, kamu juga perlu uang untuk membeli pulsa internet kamu yang akan habis besok.


Sesungguhnya kita tidak pernah terikat dengan pola. Pola lama mungkin tetap bertahan, namun bukan tidak mungkin bisa dihilangkan. Tetaplah berfikir positif tentang diri dan kondisi kamu. Disiplin mental mungkin tidak mudah, tapi sangat besar manfaatnya. Dan yang lebih penting adalah selalu berdoa. Kondisi spiritual yang baik akan membantu kamu dari jalan yang tidak pernah diduga. Bukankah bersedekah bisa menjauhkan kita dari dari bencana? atau, rejeki dan umur kita akan dipanjangkan jika kita rajin bersilaturrahmi.


Rabu, 18 Maret 2015

Setelah Lulus




Minggu ini teman-teman kita dari kelas XII sedang melaksanakan UAS, dan tidak lama lagi mereka akan menempuh Ujian Nasional. Lalu, dalam beberapa bulan kedepan siswa kelas XII akan meninggalkan SMA-nya. 3 tahun … waktu yang singkat, bukan?

Kemudian, apa yang akan terjadi setelah lulus SMA?

Saya jadi ingat ceramah Kepala Sekolah menjelang kelulusan kami. Beliau bilang, kami diibaratkan orang yang membeli koran, dan apa yang dilakukan orang itu akan mencerminkan tindakan kami setelah meninggalkan bangku sekolah.

Pertama, kami akan membaca korannya untuk menambah wawasan.

Kedua, kami akan mencari lowongan kerja di dalamnya.

Ketiga, kami akan menggelar koran tersebut untuk jualan.

Keempat, kami akan menjadikan koran tersebut sebagai alas tidur.

Jadi, tipe yang manakah kamu?



Selasa, 17 Maret 2015

Untuk Apa Menulis?

oleh Gema Indra



Anda tentu percaya bahwa di samping wujudnya yang berupa fisik, manusia juga memiliki apa yang disebut emosi.

Sebagaimana fisik yang memiliki otot-otot yang akan kaku jika tidak dilatih atau digunakan, emosi pun demikian, akan tumpul dan bahkan mati kalau tidak dilatih. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan pak Daniel Gleman, seorang psikolog dari Harvard Univeristy, dalam bukunya Emotional Intellegence bahwa kesuksesan hidup manusia hanya 20% bergantung pada kecerdasan intelektual (IQ), selebihnya 80% bergantung pada kecerdasan emosional. 

Menulis adalah salah satu aktivitas yang banyak melibatkan emosi. Jika tidak terbiasa atau membiasakan diri, maka menulis akan menjadi satu hal yang sangat sulit dilakukan, padahal betapa banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari menulis.

“Menulis, sesungguhnya, bagaikan mengalirkan kata-kata yang membawa segala ‘kotoran’ yang menyesaki diri kita. Menulis dapat membantu kita mengosongkan apa saja yang ingin kita keluarkan  yang ada dari dalam diri kita. Menulis, insya Allah, dapat membuka diri kita, dan diri kita yang terangkai dalam kata-kata milik kita itu kemudian akan memantulkan siapa diri kita sebenarnya.” Kata-kata ini saya dapati dalam Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, ditulis oleh pak Hernowo.

Menurutnya, ia dapati kata-kata itu dari halaman-halaman awal buku pak James P. Pennebaker; Opening Up: The Healing Power of Expressing Emmotions, yang diterjemahkan oleh penerbit Mizan (2002) menjadi Ketika Diam Bukan Emas: Berbicara dan Menulis Sebagai Terapi.

Ternyata dahsyat sekali manfaat menulis itu. Saya sangat terkesima ketika menyadari bahwa penjelasan manfaat menulis dari pak Pennenbaker bisa sampai kepada saya melalui pak Hernowo. Saya tidak pernah (sekedar) melihat pak Pennenbaker apalagi mengenalnya, dan begitupun dengan pak Hernowo, saya juga belum pernah berjumpa dengannya meskipun saya sempat berkorespondensi melalui email beberapa kali. Tapi, bagaimana kata-kata pak Pennenbaker itu bisa sampai kepada saya? Ini tidak lain kaena ia menuliskan apa yang ingin disampaikannya, kemudian pak Hernowo menulis kembali apa yang pernah dibacanya, dan pada akhirnya saya membaca apa yang ditulis pak Hernowo. Ini merupakan salah satu manfaat menulis, yaitu pesan yang ingin kita sampaikan dapat tersebar secara luas dan tersimpan secara utuh.

Belum lagi jika kita cermat kembali kata-kata pak Pennenbaker itu bahwa menulis bisa menjadi sebuah terapi yang mengalirkan kata-kata yang membawa ‘kotoran’ yang menyesaki diri kita Menulis juga bisa menjadi wahana secara reflektif untuk melihat diri kita dengan utuh, mengenal siapa diri kita sebenarnya, melatih untuk berpikir secara logis, meningkatkan kepekaan emosi, menjadikan kita seorang penghuni bumi yang turut mewarnai dunia, dan juga bisa menjadi sumber penghasilan.

Jadi, alangkah beruntungnya jika sekiranya sejak saat ini kita melatih otot-otot emosi kita – tidak pernah ada kata terlambat – untuk meningkatkan kepekaan emosi kita. Dan karena caranya melalui menulis, maka dengan serta merta keterampilan menulis kita harus selalu diasah. Dan oleh karena kepiawaian menulis berkorelasi positif dengan seberapa banyak kita membaca – karena tidak ada output (menulis) tanpa input (membaca) – maka sudah sewajarnya kita bertekad untuk melakukan akselerasi dalam hal membaca. Kita mentransformasi diri kita dari belajar untuk membaca menjadi membaca untuk belajar.

Never be late, we are never too old to learn.

Baca juga: Cerpen Romantis